nankeyst

Siapa yang selalu membeli nasi goreng lamer? Agil. Jawabannya adalah Agil. Akhir-akhir ini, Agil selalu membeli nasi goreng lamer yang mungkin setiap malamnya di meja makan terdapat beberapa bungkus nasi goreng lamer di sana. Agil membelikannya untuk perempuan yang ia cintai. Lea.

Lea sangat suka dengan nasi goreng lamer bertopping ayam katsu itu. Tak lupa, terdengar suara kriukan yang berasal dari mulutnya saat dirinya mengunyah. Kriukan itu adalah beberapa kacang goreng yang menjadi kunci kelezatan nasi goreng lamer ini.

Pukul satu malam, seperti biasanya. Lea akan terbangun, dan ia akan mengeluh kelaparan. Dengan sigap, pasti Agil langsung ikut bangun saat itu juga untuk menemani istrinya makan.

“Kalo nggak ditemenin, dia bakal ngambek. Dia nggak berani turun ke bawah buat makan tengah malem sendirian,” kata Agil.

Agil tak kesal dengan kebiasaan Lea itu setelah menikah. Ia malah dengan senang hati akan menemani istrinya yang setiap malam kelaparan seperti zombie.

“Aduh ... borong aja apa Mas nasgor lamer ini. Atau nggak bawa aja gerobaknya ke rumah, sama yang dagangnya juga.”

Agil yang sedang menuangkan air minum di depan kulkas itu terkekeh. Lalu ia beralih berjalan menuju meja makan, dan duduk di sana—di hadapan Lea yang masih menyantap nasi goreng lamernya itu.

“Nih,” kata Agil seraya memberikan segelas air kepada Lea. “Jangan lupa minum, sayang .... Takut keselek.”

Uhuk!

Benar saja, detik itu juga Lea langsung tersedak. Selain tersedak, ia juga terkejut saat Agil mengucapkan kata “Sayang.” Sudah biasa, sih. Tetapi rasanya jika Lea mendengar kata itu, seketika tubuhnya terasa melayang.

Lea sudah menyantap habis nasi goreng lamernya itu. Satu setengah bungkus ia makan. Setengahnya, Agil yang menghabisinya. Agil heran, setiap hari Lea selalu seperti ini. Tetapi, mengapa berat tubuh Lea tidak pernah naik?

Kini pukul setengah tiga pagi. Pencahayaan rumah Agil tidak terlalu terang karena setiap malam Agil hanya memasang lampu downlight. Masih di tempat yang sama, namun posisinya berbeda, Agil dan Lea duduk bersampingan untuk melanjutkan film yang mereka tonton.

“Hah ... Red juga mau bunuh diri? Plis ... jangan ... sumpah kalo iya Lea bakal nangis lagi, sih ....”

Agil hanya mengukir senyuman, dikala Lea menonton film tersebut dengan serius. Setelah beberapa menit, Agil merasa sangat puas dengan ending film itu. Namun Agil terheran, mengapa tak ada reaksi sedikit pun dari Lea?

Agil menunduk sedikit, untuk melihat wajah istrinya itu. Ternyata Lea tertidur. Padahal, jika Lea menyaksikan endingnya, pasti Lea akan merasa sangat puas seperti Agil.

Cukup lama menghabiskan waktu bersama di meja makan, kini Agil membopong tubuh Lea perlahan untuk menuju kamar. Sembari menaiki tangga satu persatu, Agil memperhatikan wajah tertidur istrinya itu.

Cantik, selalu cantik.

Perlahan Agil mendekatkan wajahnya, untuk mengecup dahi Lea. Agil tersenyum, ia seperti masih tidak menyangka bahwa kini perempuan pilihan Mas Galang menjadi miliknya.

Di kasur yang empuk ini, Agil membaringkan tubuh Lea. Bukannya langsung tidur, Agil lebih memilih untuk terus menatap wajah cantik istrinya itu ketika tidur. Agil mengusap lembut surai rambutnya. Kemudian turun untuk mengusap wajah perempuannya itu. Agil kembali mendekatkan wajahnya, dan menempelkan bibirnya itu di bibir merah muda Lea.

Cup!

“Mas sayang kamu, dek ...” ucap Agil dengan nada kecil.

Tiba-tiba saja Lea membuka matanya. Ia terkejut, bahwa wajah Agil tepat berada di atasnya. Jaraknya sangat dekat sekali.

“Happy ending,” ujar Agil seraya menatap Lea.

Lea membalasnya dengan kerutan di dahinya. “Hah ...?”

“Filmnya Happy ending, sayang .... Tapi tadi Lea ketiduran ....”

“Serius?” Lea bertanya, kemudian ia ingin bangkit dari tidurnya namun Agil tahan saat itu juga. “Kenapa, Mas ...? Mana handphonenya, Lea mau lanjutin ....”

“Besok aja. Udah malem, dek ....” Agil menjawab, dengan manik mata yang masih setia menatap istrinya itu.

“Kenapa liatin Lea terus?”

Agil tersenyum manis, kemudian ia menggeleng.

“Mas ...” panggil Lea yang dijawab dehaman oleh Agil.

Lea terdiam sejenak, lalu tak lama Lea menangkup wajah Agil itu. Kemudian, Lea menarik wajah Agil dan setelahnya Lea melumat bibir manis suaminya itu. Lea bisa merasakan, bahwa Agil tersenyum di sela-sela ciuman mereka berdua.

Momen setiap tengah malam seperti inilah, yang tak akan pernah terlupakan bagi mereka berdua.

2047.

Seorang perempuan membuka matanya dengan cepat. Napasnya terengah-engah, keringatnya pun bercucuran di wajahnya. Ia bangkit dari posisi tidurnya, ia mengatur napasnya dengan sebaik mungkin. Mimpi, barusan ia bermimpi sangat panjang. Mimpi itu, mimpi yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata.

Ia bangkit dari kasurnya, melangkahkan kakinya menuju sebuah kaca besar di lemarinya. Ia.... masih hidup?

Ceklek! Pintu kamarnya terbuka, menampilkan seorang pria yang sangat ia kenali.

“Dek.... Lagi ngapain?”

Klea, ia terdiam cukup lama. Ia terdiam, mencerna apa yang baru saja ia alami. Jadi.... itu semua hanyalah mimpi?

Cup! Klea merasakan bahwa dahinya dikecup oleh pria yang sangat ia cintai— Agil.

“Kamu kenapa, sih?” tanya Agil yang heran melihat Klea sedari tadi terdiam

Klea menatap Agil, menatapnya dengan sangat lekat. “K-kita, masih hidup?”

Agil mengernyit, lalu ia terkekeh. “Kamu kenapa sih, dek....”

Klea meneteskan air matanya, lalu ia langsung memeluk Agil saat itu juga.

“Udah yuk ke bawah, anak-anak udah nungguin.”

Klea melepaskan pelukannya. “Kita mau ke mana emangnya?”

“Foto keluarga,” ucap Agil yang disertai senyuman manis

Kini Agil dan Klea telah melangkahkan kalinya menuju ruang tengah, ia melihat di sana Adam dan Alea yang ternyata sudah siap untuk pergi foto keluarga.

“Udah yuk ah pergi sekarang, nanti kalo kesiangan panas banget sumpah,” ucap Alea

Agil, Klea, dan Adam mengangguk setuju saat itu juga.


Sebuah taman yang cukup luas yang terletak di kota Jakarta ini menjadi tempat pemotretan Agil dan keluarga kecilnya. Iya, hari kemarin Adam dan Alea telah lulus menjadi sarjana Arsitektur dan Kedokteran. Mereka memutuskan untuk foto wisuda sekaligus foto keluarga di tempat ini.

Agil dan Klea, mereka berdua sudah terduduk manis di sebuah kursi yang telah disediakan Adam dan Alea.

“Wait, wait, ngatur posisinya dulu. Le, coba lo berdiri di samping papah,” pinta Adam

“Oke, oke.”

Agil dan Klea menggenggam tangannya satu sama lain. Klea yang melihat dasi Agil sedikit berantakan, ia langsung merapihkannya saat itu juga.

Agil tersenyum, lalu ia mengecup secara perlahan punggung tangan Klea. “Makasih, dek....”

“AYO, AYO, INI PAKE TIMER,” teriak Adam yang setelahnya langsung berlari dan berdiri di samping Klea

1

2

3

Cekrek!

“YES! AYO MAS KITA LIAT HASILNYA,” teriak Alea

Agil dan Klea sama sama tersenyum melihat kedua anaknya yang di sana tersenyum bahagia.

“Bagus ngga?” tanya Agil

“Bagus, sumpah bagus banget.... Backgroundnya tuh gila keren kan foto di antara dua pohon besar. Ngga salah nih mas gue pilih tempat foto,” ucap Alea panjang lebar

Adam terkekeh.

“SEKALI LAGI!!” teriak Adam

Agil dan Klea mengubah posisinya, mereka berdua saling berdekatan dan menggenggam tangannya satu sama lain.

1

2

3

Cekrek!

Agil dan Klea kembali mengeluarkan senyumannya saat ia melihat di depan sana kedua anaknya tersenyum bahagia.

Klea tersenyum haru, ia menghela napasnya secara perlahan. “Akhirnya ya mas, akhirnya anak-anak kita jadi sarjana juga. Lea berharap, semoga mereka berdua menjadi orang yang sukses....”

Agil mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Klea, ia masih setia menatap kedua anaknya yang di depan sana sedang melihat hasil fotonya. “Aamiin, dek....”

“Setidaknya Lea sekarang udah lega, akhirnya mereka udah bisa menata hidupnya masing-masing. Mereka udah tumbuh besar, tumbuh dengan baik. Mas bangga ngga sama anak-anak?” tanya Klea yang kini menatap Agil

Agil tersenyum menatap Klea. “Udah pasti bangga, bangga banget.”

Cup! Klea mengecup secara perlahan pipi Agil, lalu ia menatapnya dengan sangat lekat.

“Mas Agil, Klea, tetangga. Ngga nyangka ya kita sekarang hidup bersama-sama. Kita laluin semuanya bersama-sama, suka dan duka. Lea kadang masih ngga percaya kalo tetangga Lea jadi suami Lea sekarang. Lea seneng banget, Lea bisa ditakdirin hidup sama Mas Agil. Mas Agil selalu ngajarin hal-hal yang baik ke Lea, dan Lea pun menerimanya dengan senang hati. Mas.... Apapun kesalahan yang pernah Lea lakuin ke Mas tolong dimaafin, ya? Lea sayang banget sama Mas Agil....”

Agil tersenyum manis, lalu ia kembali mengecup dahi Klea cukup lama. “Mas juga sayang kamu, dek.... Beribu kali mas ngga akan pernah bosen kalo mas bilang mas beruntung banget milikin kamu.... Perempuan memang banyak di dunia ini, tapi di mata mas cuma kamu yang spesial. Terima kasih, ya? Terima kasih sudah hadir di dalam hidup mas.”

Klea tersenyum manis.

“Yaudah, waktu kita cuma sedikit di sini. Udah, yuk? Kita pergi lagi. Kita jalan-jalan lagi ke tempat yang sangat indah....” ucap Agil yang kini sudah berdiri di hadapan Klea

Klea bangun dari duduknya secara perlahan, tangannya tak lepas dari genggaman Agil. Ia menatap kedua anaknya yang di depan sana masih saja sibuk melihat hasil fotonya. Klea tersenyum tipis, ia benar-benar sangat bahagia melihat kedua anaknya yang sudah tumbuh dewasa itu.

Klea merasa bahwa tangannya ditarik oleh Agil, lalu detik itu juga mereka berdua pergi melangkahkan kakinya meninggalkan kedua anaknya.

Alea tersenyum puas. “Wah, parah sih pokoknya kece banget ini. Nanti pulang kita cuci terus pajang di bingkai besar ya, mas?” ucap Alea menatap Adam yang masih sibuk melihat foto-fotonya

Adam mengangguk.

Alea menghela napasnya, lalu manik matanya beralih menatap ke dua buah kursi yang tersusun rapih di sana. Alea melangkahkan kakinya secara perlahan mendekat ke arah kursi tersebut, ia berjongkok, lalu menatap sebuah bingkai foto Agil dan Klea yang terpajang sangat rapih di sana.

Alea tersenyum tipis, tangannya beralih mengusap bingkai foto kedua orang tuanya tersebut.

Adam yang menatap Alea berdiam diri sambil berjongkok di sana, detik itu juga ia langsung menghampirinya.

“Le....” panggil Adam

Alea menghapus air matanya dengan cepat, lalu ia bangkit dari posisinya.

Adam menghela napasnya. “Kalo mau nangis ya nangis aja, le.... Jangan ditahan....”

Alea terdiam.

“Kangen ya sama Papah Mamah? Sama kok, gue juga kangen sama mereka. Tapi pasti Papah sama Mamah udah bahagia di sana, lagian juga gue yakin kalo mereka berdua selalu ngawasin kita.”

Detik itu juga, tangis Alea langsung pecah. Adam yang melihat itu langsung membawa sang adik ke dalam dekapannya.

“Kenapa mereka ninggalin kita, mas.... Kenapa mereka berdua tega ninggalin kita....” ucap Alea yang menangis

Adam mengelus punggung sang adik. “Ssst, ssttt.... Jangan nangis, ah. Papah sama Mamah pergi emang karena udah waktunya, le.... Waktu mereka udah selesai di dunia ini....”

“Kita udah wisuda, mas.... Kita udah lulus kuliah.... Seharusnya Papah sama Mamah ada di sini sama kita.... Gue mau liat reaksi mereka berdua gimana disaat kita udah berhasil seperti ini....”

Adam melepaskan pelukannya, lalu ia menangkup wajah adiknya dan langsung menghapus air matanya saat itu juga. “Ale, liat mas. Papah sama Mamah udah pergi.... Mereka ngga akan pernah bisa kembali lagi.... Lo harus percaya dan yakin, kalo Papah sama Mamah di atas sana bangga sama kita. Papah sama Mamah emang udah pergi le, mereka udah tenang.... Tapi bukan berarti mereka ngga mantau kita, mereka pasti selalu mantau perkembangan kita....”

Alea kembali meneteskan air matanya. “Mas jangan tinggalin Ale, ya? Cuma Mas Adam yang Ale punya sekarang....” ucapnya menatap sang kakak

Adam tersenyum, lalu ia mengecup dahi adiknya. “Mas ngga akan ninggalin Ale, mas akan selalu ada di samping Ale. Ale jangan khawatir, ya? Mas sayang sama adik mas ini, mas janji akan jagain Ale setiap saat. Sekarang udah, ya? Kita ikhlasin Papah sama Mamah.”

Alea menghapus air matanya, lalu ia mengangguk kecil.

“Adam, Ale!” panggil seseorang

Adam dan Alea menoleh saat itu juga, menatap Leon dan Raline yang kini menghampirinya.

“Eh, eh.... Ini anak om abis nangis? Kenapa Ale....” tanya Leon yang menangkup wajah Alea

Alea menepis tangan Leon secara kasar. “Tangan om bau banget.”

Leon melongo. “Dih, songong ya kamu.”

Adam, Alea, Leon, dan Raline terkekeh secara bersamaan.

“Kenapa Ale? Pasti kangen ya sama Papah sama Mamah? Kan tante udah bilang, kamu masih punya tante Raline, om Leon, sama yang lain....” ucap Raline yang kini mengusap perlahan rambut Alea

“Iya, tadi dia nangisin Papah sama Mamah. Kangen katanya,” ucap Adam

Leon tersenyum tipis, lalu ia langsung memeluk Alea saat itu juga. Manik mata Leon menatap dua buah bingkai foto yang diletakkan di kursi sana, ia tersenyum tipis melihatnya.

“Udah, anak cantik ngga boleh nangis,” ucap Leon yang kini sudah melepaskan pelukannya dan merapikan rambut Alea

Alea tersenyum.

Leon beralih untuk mengambil kedua bingkai foto Agil dan Klea. Ia menatapnya cukup lama, ia juga sangat merindukannya. Lalu, bingkai foto milik Agil ia pegang dan ia tempelkan di dadanya. Raline pun melakukan hal yang sama seperti Leon, ia menempelkan bingkai foto Klea di dadanya.

“Ayo coba, bayangin om Leon sama tante Raline ini Papah sama Mamah kalian. Minta izin dan pamit coba sama mereka,” pinta Leon

Adam dan Alea saling menatap satu sama lain, kemudian mereka berdua membayangkan Leon dan Raline adalah Agil dan Klea.

“Pah, mah.... Kita berdua minta izin dan pamit, kita mau melanjutkan pendidikan kita berdua. Adam, sama Ale dapet beasiswa kuliah di Oxford, pah, mah.... Hari ini kita akan berangkat ke sana. Doain kita berdua ya semoga semuanya lancar. Kita berdua janji, kita berdua akan menjadi orang yang sukses.”

Leon mengerjapkan matanya berulangkali, ia menahan tangisnya mati-matian. Ia tersenyum, tersenyum ketika Adam dan Alea sudah meminta izin dan pamit kepada Agil dan Klea.

Leon memberi kedua bingkai foto Agil dan Klea pada Adam dan Alea. “Di simpen baik-baik, ya? Biar lebih kerasa minta izin sama pamitnya abis ini kita ke makam mamah Klea dulu, kita juga ke tempat papah Agil. Gimana?” tanyanya

Adam dan Alea mengangguk.

Raline mengusap rambut Adam dan Alea secara bergantian. “Anak ganteng, anak cantik, kalian pasti akan jadi orang yang sukses kok sayang....”

“Aamiin,” ucapnya serentak

“Udah yuk, kita pergi,” ucap Leon

Mereka semua kini telah merapihkan semua peralatan untuk pemotretan tadi, lalu tak lama mereka berempat langsung pergi meninggalkan tempat ini.

Leon menoleh ke belakang, menatap di mana tempat foto Adam dan Alea tadi. Ia yakin, bahwa Agil dan Klea datang menemani kedua anaknya.

Agil, Klea, gue janji akan jagain Adam sama Ale.... /batinnya

Apa yang sudah pergi, biarkanlah pergi. Tuhan sudah mengatur semua takdir untuk umatnya, Tuhan akan memanggil umatnya jika waktu mereka di dunia ini sudah habis. Agil dan Klea, mereka sudah berbahagia di atas sana. Mereka selalu berdampingan, mereka tak terpisahkan sama sekali. Klea berhasil, berhasil menjaga hatinya untuk seseorang yang sangat ia cinta— Agil. Keduanya, saling menjaga hati satu sama lain. Mereka pergi, disaat semua masalah dalam hidupnya sudah terselesaikan. Mereka pergi dengan tenang. Mereka selalu bergandengan tangan kemana pun mereka pergi. Dua pasang insan yang memang telah ditakdirkan untuk bersama selamanya, kini sudah berbahagia di tempat yang sangat jauh, sangat indah. Waktunya telah usai, mereka berhasil melewati suka dan duka yang mereka lalui selama ini. Mereka, telah pulang bersama-sama ke pangkuan Tuhannya. AgiLea, kisahnya sudah selesai. Mereka menjadi pasangan abadi yang tak akan pernah terpisahkan sampai mati.

S E L E S A I.

Semua orang sudah berlalu lalang pergi meninggalkan sebuah rumah, rumah tempat peristirahatan terakhir Klea. Leon melihat di sana Tiff yang masih saja menangis sambil mengusap nisan yang bertuliskan Akleea Ayu Adine itu.

“Kamu kenapa ninggalin mamah, kak....”

Leon kembali meneteskan air matanya, lalu tak lama ia sedikit kehilangan keseimbangannya.

“LEON!”

Leon kembali tersadar saat Dito, Saka, dan Abeng menahan tubuhnya.

“Leon, muka lo pucet banget. Lo belum makan, ya?” tanya Kala cemas

Leon tersenyum getir. Lalu, Kala menyuruhnya untuk duduk di bawah sana.

Leon menatap rumah Klea, rumah yang di atasnya ditabur oleh bunga yang cantik. Leon kembali meneteskan air matanya, mengapa Klea meninggalkan dirinya pergi?

Leon merasakan ada yang menepuk pundaknya, ternyata itu Dito. “Sebegitu cintanya lo sama Klea?”

Lagi-lagi Leon tersenyum getir, ia menghela napas sesaknya. “Gue nyesel pernah nyia-nyiain orang sebaik dia.... Kenapa disaat dia masih ada, gue ngga memperlakukan dia dengan baik....”

Dito hanya menepuk pundak Leon secara perlahan.

“Mamah.”

Manik mata Leon langsung menatap ke arah depan sana, ia bisa mendengarkan suara seseorang yang sangat ia kenali.

“Mamah mana....”

Adam dan Alea, mereka berdua datang ke tempat peristirahatan terakhir Klea dengan kondisi mereka yang duduk di sebuah kursi roda.

Alea menarik sedikit kursi rodanya agar dapat melihat dengan jelas makam siapakah yang ia lihat di hadapannya sekarang.

Alea terdiam sejenak, jantungnya seperti berhenti berdetak. Tidak, tidak mungkin itu makam ibunya.

“Mamah mana?” tanya Alea menatap semua orang di sini

Wawa menghampiri Adam dan Alea yang terlihat sangat terkejut. “Ale, Adam....”

“Mamah pergi? Mamah ninggalin aku sama Ale?” tanya Adam yang matanya tak lepas menatap makam tersebut

Alea turun secara paksa dari kursi rodanya.

“ALE! JANGAN TURUN!” teriak mereka semua

Alea tak mempedulikan semua orang di sini. Ia menahan rasa sakitnya mati-matian agar bisa mendekat ke makam Klea.

“Mamah, mamah ngga mungkin pergi kan?” tanya Alea yang menyentuh tanah pemakaman Klea

“MAMAH MANAAA?!” teriak Alea sambil menangis histeris

Alea mengusap perlahan nisan Klea, ia melihat seluruh tanah yang menimbun tubuh Klea di bawah sana. “Mamah ngga mungkin ninggalin Ale kan mah?”

Alea menatap semua orang yang kini menatapnya. “KENAPA NGGA ADA YANG NGASIH TAU AKU SAMA MAS ADAM KALO MAMAH PERGI?! KENAPA PADA DIEM AJA?! ALE BELUM LIAT WAJAH MAMAH! KENAPA KALIAN JAHAT!” teriak Alea yang menangis sejadi-jadinya

Leon memukul-mukuli dadanya yang terasa sangat sesak saat melihat Alea menangis kencang sambil memeluk makam Klea di sana, ia juga melihat Adam yang menangis sambil terduduk di kursi roda.

“Mamah.... Ale mimpi Ale hidup bahagia sama mamah sama papah Agil dan juga Mas Adam.... Ale inget jelas semua mimpi itu.... Terakhir kita rayain ulang tahun mamah, terus kita pulang ke Indonesia.... Papah Agil, papah Agil bilang mau ajak mamah pergi.... Tapi kenapa ngga balik lagi, mah....” ucap Alea menangis sambil memeluk makam Klea

“Mamah maafin Ale.... Ale nyesel, mah.... Seharusnya waktu itu Ale ngga nyuruh apa yang ngga mau mamah lakuin.... Ale nyesel mah, Ale nyesel.... Papah Agil, tolong bawa mamah kembali....”

Tw // Mention Of Death

Seorang perempuan terbaring lemas tak sadarkan diri di sebuah ranjang rumah sakit dengan banyak alat medis yang menempel pada tubuhnya. Di alam bawah sadarnya, ia seperti merasakan bahwa ia sedang melangkahkan kakinya menuju suatu tempat bersama seseorang yang ia cintai, ia dituntun untuk menuju sebuah jembatan yang sangat panjang.

Terlihat tetesan air mata yang menetes pada wajah perempuan yang sedang terbaring tak sadarkan diri itu, di alam bawah sadarnya ia berhasil menginjakkan kakinya di jembatan tersebut. Lalu, beberapa saat kemudian semuanya menjadi sangat terang benderang.

Nitttttttt.............

Di sisi lain, Leon membuka matanya secara perlahan. Ia merasakan bahwa wajahnya bercucuran keringat, jantungnya sangat berdegup dengan kencang. Baru saja, ia bermimpi sangat panjang. Ia bermimpi tentang perjalanan hidup dirinya dengan Klea. Mimpinya terasa sangat nyata, sampai ia tak sadar bahwa ia sudah meneteskan air matanya sedari tadi.

Leon terdiam, terduduk di kursi lorong rumah sakit. Kondisinya benar-benar sangat berantakan sekarang, seperti orang yang tak diurus. Klea, Adam, dan Alea, kapan mereka terbangun dari tidur panjangnya? Beberapa minggu yang lalu, saat pernikahan dirinya dengan Klea akan di gelar, tiba-tiba saja dirinya mendapatkan kabar bahwa Klea dan kedua anaknya mengalami kecelakaan dalam perjalanan. Terkejut? Tentu saja Leon sangat terkejut. Mobil yang mengangkut Klea dan anak-anaknya hancur parah, terutama di bagian tengah tempat yang mereka bertiga duduki. Dan kini selama hampir sebulan, Leon dengan setia menunggu Klea dan kedua anaknya terbangun dari tidur panjangnya.

Leon terkejut saat ada beberapa dokter dan perawat yang berlari kencang ke ruang ICU— tempat Klea dan kedua anaknya di rawat. Ia sangat panik, akhirnya ia melangkahkan kakinya ke sana.

“Dok, sus, ada apa?” tanya Leon yang raut wajahnya sangat cemas

“Pak, mohon tunggu sebentar ya?” ucap salah satu perawat

“MANGGALA ADAM, MANIKA ALEA, PUKUL EMPAT PAGI, BERHASIL MELEWATI MASA KOMANYA.”

Leon tersenyum bahagia saat mendengarkan ucapan dokter tersebut, tapi setengah perasaannya masih gelisah karena belum ada perkembangan sedikit pun dari Klea.

“SIAPKAN ALAT PACU JANTUNG! KONDISI PASIEN KRITIS, BERI TAHU KELUARGANYA.”

Deg! Jantung Leon seperti berhenti berdetak. Klea.... tidak mungkin ia kritis. Dengan cepat, Leon menghubungi seluruh keluarga Klea.

“Pak, anak-anaknya sudah sadar. Bapak mau ketemu?” tanya salah satu perawat

Leon langsung memasukan handphonenya ke dalam sakunya saat itu juga, lalu ia langsung menemui Adam dan Alea yang sudah tersadar dari komanya.

Nit.... Nit.... Nit....

Suara alat detak jantung memasuki telinga Leon, ia melangkahkan kakinya secara perlahan untuk menghampiri Adam dan Alea yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit dengan alat medis yang menempel pada tubuh keduanya.

“Papah.... Mamah....”

Leon meneteskan air matanya saat mendengar suara lirihan dari Adam dan Alea. Leon benar-benar tak kuat, ia tak kuat melihat Adam dan Alea yang kondisinya seperti ini.

“Leon,” panggil seseorang

Leon menoleh, menatap Kala yang di sana berdiri di depan pintu. “Gue ngga kuat, kal....”

Leon melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan tersebut. Ia melihat di sana sudah ada keluarga Klea, keluarga Agil, Dito, Saka, Abeng, dan juga Wawa. Leon pun juga melihat Kala yang keluar dari ruangan Adam dan Alea.

“Dokter, tolong bagaimana keadaan anak saya?” tanya Tiff sambil menangis

“Kami lagi berusaha semaksimal mungkin ya, bu.... Cuma di sini kabar buruknya jika semua alat medis di tubuh pasien kami cabut, maka nyawanya tak tertolongkan. Sekarang juga pasien benar-benar sangat kritis keadaannya, kita berdoa saja ya....”

Tubuh Tiff melemas saat itu juga.

“Ya Allah, Klea....” ucap Wawa yang menangis di pelukan Saka

Kala menatap Leon yang melamun sambil bersandar pada dinding rumah sakit. “Leon, lo kenapa?”

Leon terdiam cukup lama, air matanya tak berhenti menetes. “Gue mimpi panjang, gue mimpi perjalanan hidup gue, Klea, sama anak-anak. Ada Agil di sana, Klea kembali sama Agil. Dan di mimpi terakhir, Agil nitipin Adam sama Ale ke gue. Dan Agil, Agil bawa Klea pergi kal....”

Kala meneteskan air matanya.

“Mimpi gue aneh, tapi rasanya nyata banget. Setelah gue liat Agil bawa Klea pergi, gue kayak ngebawa Adam sama Ale, tapi gue ngga tau kemana.... Abis itu gue bangun, gue dikabarin perawat kalo Adam sama Ale sadar. Gue kayaknya berhasil bawa Adam sama Ale kembali, tapi gue ngga berhasil bawa Klea kembali kal....”

Kala langsung memeluk Leon saat itu juga. “Kenapa mimpinya kayak gitu, Leon....”

“Gue ngga tau, kal.... Mimpi gue aneh....”

Nitttttt........

“PACU JANTUNG SEKALI LAGI!”

Keadaan semakin menjadi tegang sekarang, pasalnya mereka semua bisa melihat apa yang dokter dan perawat lakukan di dalam sana.

“SEKALI LAGI!”

Leon bisa melihat bagaimana tubuh Klea seperti tersentak ke atas karena alat pacu jantung tersebut, Leon juga bisa melihat dengan jelas alat detak jantung yang menunjukkan garis panjang.

Agil, gue mohon jangan bawa Klea pergi.... Bawa Klea kembali, gil.... /batinnya

“Klea, Klea sayangnya mamah, cantiknya mamah, ayo bangun sayang.... Kamu hari ini ulang tahun ya, kak? Mamah mohon bangun sayang....” ucap Tiff sambil melihat keadaan Klea lewat jendela kaca yang berada di ruangan ICU ini

“Pak, mba Klea ngga ikut Mas Agil kan?” tanya Bella tiba-tiba

Danendra terdiam, ia hanya memeluk putrinya yang kini sudah tumbuh dewasa.

“SATU! DUA! TIGA!”

Nittttttttt.......

Semua orang yang berada di luar ruangan ICU ini benar-benar sangat panik, mereka mendekat ke arah pintu menunggu dokter untuk memberitahukan bagaimana keadaan Klea.

“ITU KENAPA KLEA DITUTUPIN KAIN?!” teriak Tiff sambil menangis kencang

Abram tak kuasa menahan tangisnya, ia menarik Tiff agar tak masuk ke dalam ruangan. “Tiff....”

“Mas.... Klea kenapa ditutupin kain mas?” ucap Tiff menangis sambil menggoyangkan tubuh Abram

Raut wajah Leon sudah tak bisa diartikan lagi, jantungnya benar-benar berdebar sedari tadi. Ia juga sangat terkejut, mengapa seluruh tubuh Klea ditutupi oleh kain.

Ceklek! Dokter keluar dari ruangan dengan raut wajah pasrahnya.

Saat itu juga Tiff menghampiri sang dokter dengan cepat. “Dokter, kondisi anak saya gimana? Anak saya gimana dok?! Itu kenapa anak saya ditutupi kain?! JAWAB SAYA DOK, JAWAB! SAYA IBUNYA! SAYA YANG MENGANDUNG PUTRI SAYA!”

Abram menarik tubuh Tiff, tapi Tiff tetap saja memberontak sambil menangis kencang.

Dokter tersebut menghela napas beratnya. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun nyawanya sudah tak bisa tertolongkan. Pukul empat titik tiga puluh pagi ini, Akleea Ayu Adine telah meninggal dunia.”

Semua orang yang berada di ruangan ini menutup mulutnya tak percaya, mereka semua langsung menangis sejadi-jadinya.

“Klea....”

“Klea ngga mungkin pergi....”

“Klea ya Allah, kenapa lo ninggalin kita semua....”

“Mba Klea nyusul Mas Agil ya pak....”

Leon langsung berlari untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia melihat di sana Tiff menangis sambil memeluk Klea yang sudah terbujur kaku dengan kain yang menutupi tubuhnya.

“Anak mamah.... Cantik, bangun kak.....”

Leon meneteskan air matanya, ini semua hanya mimpi kan? Klea tidak pergi kan?

Suara rintih tangisan kini menggema di telinga Leon, ia sekarang hanya fokus menatap perempuan cantik yang sedang tertidur pulas di ranjang rumah sakit ini. Secara perlahan, ia mendekatkan tubuhnya agar dapat menatap Klea dengan sangat jelas.

Leon tersenyum getir, air matanya tak berhenti menetes. “K-klea....” panggilnya dengan nada yang bergetar

Leon menatap sekujur tubuh Klea, ia mendekatkan sedikit wajahnya ke wajah Klea. Lalu, ia beralih untuk mengusap rambutnya secara perlahan. “Kenapa, Klea? Kenapa pergi? Kenapa kamu ninggalin kita semua? Ini belum waktunya kamu pergi.... Ayo Klea, kamu harus bangun cantik.... Adam sama Ale udah bangun, kenapa kamu ngga bangun? Kenapa kamu malah pergi? Klea, mimpi yang aku alamin cukup nyata. Kamu pergi, kamu ikut Agil ya? Seharusnya tadi aku larang kamu untuk pergi, Klea.... Bangun Klea, bangun....”

“Ya Allah, Klea.... Kenapa pergi secepat ini? Lo ngga ngucapin sepatah kata apapun ke kita, kle.... Lo pergi tiba-tiba, lo ninggalin gue. Gue temen lo.... Gue temen lo dari kita masih kecil....” ucap Wawa yang menangis sejadi-jadinya di pelukan Saka sambil menatap Klea yang terbujur kaku di sana

“Ini Klea nyusul Agil, ya? Agil bawa Klea pergi?” tanya Dito menatap Klea di sana yang tertidur pulas

Kala benar-benar tak kuasa menahan tangisnya, kini ia kehilangan sahabat terbaiknya.

Leon meraih tangan Klea untuk digenggamnya. “Dingin, dingin banget.... Coba bilang ke aku kalo ini cuma mimpi. Kamu kenapa diem terus, Klea? Kamu ngga jawab ucapan aku? Kamu masih marah ya sama aku? Aku minta maaf....” ucapnya yang kembali menangis

“Leon, udah.... Klea udah ngga ada, Klea udah pergi....” ucap Kala yang menangis sambil menarik lengan Leon

Leon mengacuhkan Kala, ia tak bosan menatap perempuan yang sangat ia cintai ini. “Cantiknya Agil, Cantiknya Agil pergi ya sama Agil? Cantiknya Agil bahagia ya kalo di samping Agil? Kalo emang itu yang buat kamu bahagia, aku bisa ikhlasin kamu Klea....” Leon tak berhenti menangis, ia mengeluarkan seluruh rasa sesaknya.

Leon mengecup secara perlahan dahi Klea untuk terakhir kalinya, lalu ia kembali menatapnya dengan sangat lekat.

“Cantiknya Agil, selamat ulang tahun.... Istirahat yang tenang, ya....”

Hari ulang tahun, hari yang sangat spesial bagi seseorang. Dimana mereka tumbuh secara perlahan, bertambah umurnya, dan seiring berjalannya waktu ia menemukan apa arti kehidupan.

Klea sudah pergi, ia telah berhasil melewati masa-masa sulitnya selama ini. Ia berhasil bertahan, tak menyerah sedikit pun hanya demi anak-anaknya. Namun pada hari ini ia memutuskan untuk pergi, pergi bersama seseorang yang ia cintai. Ia berhasil menjaga hatinya untuk Agil, ia menjaga cintanya selama sisa hidupnya.

Klea sudah pergi, pergi meninggalkan kita semua. Ia menyusul Agil, untuk pergi ke pangkuan Tuhannya secara bersama-sama.

Tw // Car Crash, blood

FLASHBACK ON.

Tok.... tok.... tok....

Pintu terbuka, menampilkan Tiff disana.

“Kak....” panggil Tiff menghampiri Klea

Adam bangkit dari posisinya, ia memberi ruang antara Tiff dan Klea untuk mengobrol.

Tiff mengusap surai rambut anak perempuannya ini, “Kamu yakin mau nikah sama Leon? Mamah takut, kak....”

Klea meneteskan air matanya. Ia tahu betul mengapa Tiff takut, dan tentunya juga sebelumnya Abram melarangnya untuk menikah dengan Leon. Karena mereka takut, takut kejadian dulu akan terulang lagi. Tiff dan Abram takut jika Leon akan menyakiti anak perempuannya kembali.

“Aku lakuin ini semua untuk Ale, mah. Bakal aku lakuin apapun itu untuk bahagiain anak aku,” ucap Klea menatap Tiff dengan mata yang berkaca-kaca

“Kamu tau pernikahan bukan main-main, kak....” ucap Tiff menatap anaknya dengan tatapan sendu

Klea menghela napas beratnya, “Insyaallah aku bisa hadapin semua ini....”

Tiff meneteskan air matanya, lalu ia memeluk anak perempuannya ini.

Klea melangkahkan kakinya secara perlahan untuk menuju mobil yang akan mengantarnya ke gedung acara pernikahannya dengan Leon. Saat ingin menaiki mobil tersebut, ada seseorang yang memanggilnya.

Klea terkejut bukan main saat melihat siapa orang itu. Perempuan yang selama ini ia cari-cari keberadaannya, Raline.

“Udah lama ngga ketemu, Klea....”

Klea meneteskan air matanya.

Raline datang tidak sendiri, ia bersama seorang lelaki yang umurnya sepantaran dengan Adam dan Alea.

“Tante, saya Alex, saya anaknya mamah Raline.... Papah saya, Gara, bukan om Agil.... Kita berdua kesini cuma mau ngejelasin ke tante tentang kesalahpahaman antara tante sama om Agil dulu. Tante.... om Agil ngga pernah sama sekali menduakan tante.... Sekarang kita cuma mau bilang, jangan pernah menikah sama seseorang yang ngga pernah tante Klea cintai....”


Klea menangis, ia menangis sambil terduduk di kursi mobil yang sedang melaju ini. Ia telah selesai membaca sebuah surat yang sempat tak sampai pada tuannya. Raline, ia memberikan sepucuk surat kepada dirinya, sepucuk surat yang ditulis oleh Agil dulu.

Klea menutup mulutnya, ia meremas gaun pengantinnya dengan sangat erat. Sesak, yang Klea rasakan sekarang dadanya begitu sangat sesak.

Adam dan Alea yang terduduk di samping Klea kebingungan mengapa sang ibu menangis.

“Mah, mamah kenapa?” tanya Adam yang terlihat sangat cemas

“M-mamah.... Mamah ngga bisa n-nikah s-sama L-Leon.... Ale, m-maafin mamah.... Mamah ngga bisa nurutin p-permintaan kamu....” ucapnya sesegukan sambil menatap Alea yang terdiam di sampingnya

Klea menatap sang supir di depan sana. “Pak.... Kita pulang aja ya pak?”

“Loh bu? Tapi ibu kan mau menikah....”

Klea menggeleng dengan cepat, ia kembali menangis. “Saya ngga jadi nikah, pak.... Saya mau batalin semuanya.... Saya ngga mau mengkhianati suami saya....”

Sang supir pun mengangguk, lalu saat ia ingin menginjak remnya tiba-tiba saja rem tersebut tidak berfungsi.

Klea, Adam, dan Alea sangat panik mengapa mobil ini bergerak kesana-kemari.

“Pak? Ini kenapa?!” tanya Adam panik kepada supir

“Rem nya blong, mas!”

Klea, Adam, dan Alea terkejut.

“MAMAH, ALE TAKUT!” ucap Alea yang kini memeluk Klea dengan sangat erat

Keadaan di dalam mobil ini sangat tegang, mereka sedari tadi berdoa agar tidak terjadi apa-apa. Klea, ia meneteskan air matanya. Ia memegang erat kedua anak-anaknya, ia melindungi kedua anak-anaknya agar tidak kenapa-kenapa.

“BU, BAGAIMANA INI BU?! REMNYA BENAR-BENAR TIDAK BERFUNGSI.”

Adam membelalakkan matanya saat ia melihat di depan sana sebuah pembatas yang terbuat dari beton. “PAK, AWAS PAK!”

Mereka semua membelalakkan matanya, lalu tak lama— BRAKKKKK! BRAK! BRAK! Mobil yang mereka tumpangi menabrak sebuah pembatas dengan kencang, dan terguling-guling sampai beberapa kali.

Klea merasakan banyak darah yang mengalir di sekujur tubuhnya, ia merasakan rasa yang sangat sakit sekali. Tubuhnya benar-benar tak bisa digerakan. Sakit, sakit sekali.

Ia berusaha untuk membuka matanya secara perlahan. Ia menangis, melihat kedua anaknya yang disana tak sadarkan diri dengan banyak darah yang berlumuran.

“Adam, Ale, mamah sayang kalian....” ucapnya yang setelah itu ia langsung kehilangan kesadarannya

FLASHBACK OFF.

Klea terduduk di sebuah kursi mobil, menatap pemandangan kota Jakarta yang sudah lama tak ia kunjungi. Akhirnya ia kembali ke tempat ini, tempat di mana semua momen berharga bagi dirinya terkumpul menjadi satu di sini. Di kota Jakarta, tempat kelahirannya.

Klea tersenyum bahagia saat ia sudah memasuki perumahannya, memorinya dulu berputar kembali. Ia menatap sebuah selokan yang tak jauh dari rumahnya yang di mana dulu ia terjatuh di sana, dan yang menolongnya Agil. Ia menatap jalanan perumahannya ini, mengingat dulu bahwa ia pernah menjadi panitia tujuh belas Agustusan bersama Agil.

Klea tersenyum gembira. Agil membawanya pulang ke Indonesia, ia menepati ucapannya.

Klea sudah turun dari mobil yang mengangkut dirinya serta keluarga kecilnya dari bandara sampai ke rumahnya. Ia terdiam sejenak, menatap rumahnya yang sudah lama tak ia kunjungi. Ia melihat ke arah sekeliling, dan manik matanya berhasil menatap rumah Agil yang jaraknya hanya dua langkah dari rumahnya. Ia tersenyum kecil, ia selalu mengingat momennya dulu bersama Agil.

Ceklek! Klea membuka pagar pintu rumahnya dengan sangat pelan. Ia merasakan bahwa situasinya sekarang sangat sepi. Di manakah semua orang?

Klea menghentikan langkahnya sejenak, menatap sebuah ayunan yang dulu menjadi tempat perbincangan Agil dan Klea sambil menyantap nasi goreng lamer di sana. Ah, rasanya Klea sangat rindu dengan momen-momennya bersama Agil dulu.

Klea membuka pintu rumahnya secara perlahan. “Assalamualaikum, Klea pulang....”

1 detik

2 detik

3 detik

Tak ada jawaban.

“Mah? Mamah di mana?” panggil Klea

“Agam? Mamah? Kalian di mana? Ini Klea pulang loh....”

Klea menghela napasnya. Setelah mencari ke penjuru ruangan, tak ada sama sekali keberadaan Tiff dan Agam. Ia melihat ponselnya menunjukkan notifikasi, ternyata itu dari Agil. Agil menyuruhnya untuk pergi ke rumahnya.

Tak membutuhkan waktu yang lama, kini Klea telah sampai di rumah Agil.

“Assalamua— Loh? Leon? Raline? K-kok....” ucap Klea yang sangat terkejut melihat keberadaan Leon, Raline, dan Alex di sana

“Mas nyuruh mereka ke sini,” ucap Agil dengan cepat

Klea mengernyit, ia benar-benar kebingungan sekarang. “Nyuruh ke sini? Maksudnya?”

Agil menghela napasnya secara perlahan, lalu ia menggenggam tangan Klea saat itu juga dan berdiri menghadap Leon dan Raline yang terdiam.

“Gue mau bawa Klea pergi.”

Klea mengernyit, lalu ia menatap Agil yang berada di sampingnya. “Mas?”

“Lo mau bawa Klea ke mana, gil?” tanya Leon

Agil terdiam.

“Bawa anak-anak gue kembali, ajak mereka,” pinta Agil

Klea kembali mengernyit, lagi-lagi ia menatap Agil dengan tatapan yang tak bisa diartikan. “Mas, ini maksudnya apa sih? Btw, tadi Lea ke rumah ngga ada siapa-siapa mas, sepi.... Terus ini juga Bapak, mba Ajeng, sama Bella di mana?” tanya Klea yang melihat sekeliling rumah Agil yang terlihat sepi juga

Agil menoleh, menatap Klea dengan sangat lekat. “Mas mau ajak kamu ke tempat kita ngubur wishlist kita dulu.”

Detik itu juga, mata Klea langsung berbinar. “Serius?!”

“Kamu mau atau ngga?” tanya Agil

Klea mengangguk dengan sangat girang. “Mau banget!”

Agil tersenyum, lalu ia kembali menatap Leon dan Raline yang masih saja terdiam. Setelahnya, ia memanggil kedua anaknya, Adam dan Alea.

“Kenapa pah?” tanya Adam dan Alea serentak

“Kalian maafin kesalahan papah kalian, ya? Papah Leon.... Sekarang kalian harus nurut sama Papah Leon, dan juga tante Raline....” ucap Agil menatap kedua anaknya

“Maksudnya gimana? Papah sama mamah mau ke mana?” tanya Alea

Agil tersenyum tipis, ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Klea. “Papah mau ajak mamah kalian pergi. Kalian di sini aja, ya? Sama papah Leon, sama tante Raline, sama Alex.”

“Loh papah sama mamah mau pergi masa kita berdua ngga diajak, sih?” ucap Alea

“Belum waktunya....”

“Lo mau bawa Klea ke mana, gil?” tanya Raline

Agil kembali tersenyum, senyumannya benar-benar tak bisa diartikan. “Ke tempat yang jauh. Gue mau wujudin permintaan dia....”

Klea tersenyum menatap Agil.

“Adam, Ale, mau peluk mamah sama papah ngga?” ucap Agil menatap kedua anaknya

Dan tak lama dari itu, Adam dan Alea langsung memeluk Agil dan Klea dengan erat, sangat erat. Mereka saling berpelukan layaknya seperti orang yang ingin berpisah.

“Papah sama mamah mau ke mana?” tanya Adam di sela-sela dekapannya

“Adam sama Ale harus janji ya sama papah mamah? Kalian berdua harus jadi orang yang sukses. Jangan pernah sia-siakan apa yang kalian berdua udah lakukan selama ini,” ucap Agil yang kini melepaskan pelukannya

Agil menatap kedua anaknya dengan sangat lekat. “Adam, Ale, izinin papah buat bawa mamah kalian pergi ya?”

Adam dan Alea saling menatap satu sama lain. “Tapi balik lagi kan, pah?”

Agil tersenyum tipis.

Adam dan Alea tersenyum manis. “Adam sama Ale janji, kita akan banggain papah sama mamah. Kita ngga akan sia-siain perjuangan kita selama ini. Papah sama mamah tenang aja, kita berdua akan menjadi orang sukses.”

Agil dan Klea tersenyum lega.

“Yaudah, kalo gitu papah sama mamah pergi sekarang ya?” ucap Agil

Adam dan Alea mengangguk.

Manik mata Agil, beralih menatap Leon dan Raline. “Jagain anak-anak gue, ya? Tolong bawa mereka kembali, gimana pun caranya....” jeda Agil

Agil menoleh, menatap perempuan cantik yang berada di sampingnya. “Gue sama Klea pamit, Assalamualaikum....”

Leon melihat kepergian Agil dan Klea secara perlahan. Tak membutuhkan waktu yang lama, punggung keduanya pun lenyap begitu saja dari pandangan Leon. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi sekarang?

Perasaan seorang perempuan yang kini berada di samping lelaki yang menggenggam erat tangannya sangat campur aduk. Pasalnya, ia benar-benar sangat terkejut saat Agil memberitahunya bahwa Alex itu adalah anak dari mantan pacarnya dulu, anak dari seorang perempuan yang selama ini selalu ia cari keberadaannya.

Klea dan Agil, berdiri di depan sebuah pintu rumah, menunggu sang pemilik membukakan pintunya.

Ceklek! “H-hai,” sapa seorang perempuan yang sangat Klea kenali itu

“Hai, gue dateng.” Klea menoleh ke arah Agil yang tersenyum pada pemilik rumah ini.

“Ayo, silahkan masuk....”

Agil dan Klea langsung melangkahkan kakinya untuk masuk saat itu juga ketika pemilik rumahnya mempersilahkan keduanya untuk masuk. Klea melihat sekeliling rumah ini, terdapat beberapa foto perempuan tersebut dengan Alex. Dan— ada sebuah foto seseorang yang Klea kenali dulu.

“Oh, om Agil sama tante Klea udah dateng.”

Klea menoleh ke arah sumber suara, ternyata di sana ada Alex yang terlihat seperti baru selesai mandi.

“Hai, Alex....” ucap Klea yang setelahnya menerima saliman dari Alex

“Klea, Agil, duduk di sini....” ucap Raline sambil mempersilahkan Agil dan Klea untuk duduk di sebuah sofa

Kini, mereka berempat saling terdiam satu sama lain— Agil, Klea, Raline, dan Alex— Agil yang menyadari bahwa Klea sedari tadi terdiam terus, saat itu juga Agil langsung menyentuh tangan Klea.

“Kenapa, dek?” tanya Agil

Klea menunduk sejenak, lalu ia menatap Raline dan Alex yang duduk di hadapannya.

“Klea, gue minta maaf atas kejadian dulu, gue ngilang gitu aja....” ucap Raline menatap Klea dengan tatapan bersalahnya

Klea menahan tangisnya mati-matian, lalu manik matanya menatap Alex yang disana sedang menunduk. “Alex.... K-kamu, anaknya R-raline?”

“Iya tante, aku anaknya mamah Raline.”

“Ayah kamu, siapa?” tanya Klea dengan cepat

Alex terdiam.

Klea bisa mendengar helaan napas berat dari Agil, ia menoleh menatap Agil yang kini menatapnya juga.

“Alex bukan anak mas, Lea.... Dulu kamu salah paham. Dulu Raline periksa ke dokter di New York, dan hasil usg nya ketinggalan di koper mas....” ucap Agil

Raut wajah Klea benar-benar tak bisa diartikan. “Alex.... Alex anaknya siapa? Lea tadi liat ada foto.... Foto Gara mas, temen kerja mas dulu....” ucap Klea menatap Agil dengan mata yang berkaca-kaca

“Alex anaknya Gara, Klea....”

Klea menatap Raline yang menangis saat itu juga, ia benar-benar sangat terkejut.

“Raline dulu hamil sama Gara, bukan sama mas. Dan ya, Alex itu anaknya Gara. Dulu waktu mas suka kambuh, Raline sama Gara yang selalu nolongin mas. Dan kenapa hasil usg itu ada di koper mas, karena mas waktu itu satu kamar sama Gara, Gara ngiranya kalo koper mas itu kopernya dia....” ucap Agil

Klea sudah tak kuat menahan tangisnya, sebulir air mata berhasil menetes di pipinya. “Terus sekarang Gara di mana?” tanya Klea yang menatap Agil, Raline, dan Alex secara bergantian

Tangis Raline kembali pecah saat itu juga, Alex pun juga tak kuasa menahan tangisnya.

Agil menghela napas beratnya. “Gara ada di pesawat itu. Gara, meninggal....”

Klea menutup mulutnya tak percaya, ia benar-benar tak menyangka dengan semua ini.

“Agil ngga pernah ada niatan sekalipun buat ngeduain lo, Klea.... E-emang awalnya gue mau Agil jadi milik gue lagi, tapi ternyata dia tetep ngejaga hatinya buat lo.... Agil ngga pernah selingkuh, dia cuma cinta sama lo....” ucap Raline menatap Klea sambil menangis

Klea menunduk, ia meremas rambutnya dengan erat. Klea tak tahu apa yang harus ia lalukan sekarang, ia benar-benar tak menyangka bahwa kebenarannya seperti ini.

“Gue minta maaf Klea, gue bener-bener minta maaf dulu gue ngilang gitu aja. Gue ngga berani nemuin lo, dan gue juga pergi dari tempat tinggal gue karena gue dulu selalu diomongin kalo gue itu perempuan murahan. Gue hamil karena kecerobohan gue sama Gara, tapi gue ngga menjadikan anak yang gue kandung itu sebagai anak haram. Gue sayang sama anak yang gue kandung, gue sayang Alex. Disaat gue sama Gara tau kalo gue itu lagi hamil, saat itu juga Gara bilang mau tanggung jawab, Gara mau nikahin gue. Tapi ngga lama, G-gara malah pergi ninggalin gue....”

Tangis Klea juga pecah saat itu juga, ia menyentuh dadanya yang terasa sangat sesak. Jadi selama ini, Raline merasakan hal yang sama seperti dirinya? Bahkan mungkin kini Raline lebih menderita dari dirinya. Klea memang sangat bersyukur untungnya Agil masih hidup, tetapi bagaimana dengan Raline? Klea bisa merasakan rasa sakit yang dialami oleh Raline, bahkan sampai sekarang pun ia bisa merasakannya.

“Kalo lo ngga percaya Alex anaknya Gara, gue bisa buktiin ke lo kok Klea....”

Klea menggeleng dengan cepat saat itu juga. “Ngga, gue percaya kalo Alex itu anaknya Gara. Gue juga percaya, kalo Mas Agil ngga akan pernah nyelingkuhin gue. Dulu gue yang bodoh, Raline.... Gue bener-bener minta maaf sama lo, gue udah berpikiran buruk sama lo. Ternyata hidup lo lebih menderita selama ini....”

Klea menghapus air matanya, lalu ia menghampiri Raline yang sedang ditenangi oleh Alex itu.

Klea meraih kedua tangan Raline. “Lin, gue bisa ngerasain apa yang lo rasain selama ini. Ngebesarin anak sendirian itu berat banget lin, bener-bener berat.... Gue bangga sama lo yang udah bertahan sejauh ini, gue yakin alasan lo bertahan selama ini demi anak lo kan? Demi Alex, kan?”

Raline mengangguk.

“Gue juga seneng banget lo bisa nerima Alex sebagai anak lo, walaupun lo ditinggalin Gara disaat lo berdua udah ngerencanain buat menikah. Lin, lo ibu yang hebat.... Lo kuat, lo berhasil ngelewatin semua ini, sendirian.... Gue paham posisi lo, gue ngerti.... Gue minta maaf ya lin sama lo?” ucap Klea menatap Raline dengan tatapan sendu

“Lo ngga salah sama sekali, Klea.... Lo ngga perlu minta maaf....”

Klea tersenyum, lalu saat itu juga ia langsung memeluk Raline.

“Gue harap lo bisa bahagia berdua sama Alex, ya? Alex baik banget lin asal lo tau....” Klea melepaskan pelukannya, lalu ia tersenyum kepada Raline, “Lo jangan khawatir, sekarang gue bakal jadi temen lo kok. Gue bakal selalu ada buat lo kalo lo butuh temen cerita. Pokoknya sekarang lo ngga boleh sedih lagi, ya? Lo harus nerima takdir yang Tuhan beri. Sekarang kan lo juga udah punya Alex, pasti di atas sana Gara bahagia dan bangga banget liat lo yang berhasil bertahan sejauh ini.”

Raline tersenyum. “Lo kenapa baik banget sama gue, Klea....”

Klea tersenyum tipis, lalu ia menatap Agil yang duduk di sofa sana. “Gue selalu diajarin untuk jadi orang yang baik, walaupun orang di sekitar gue memperlakukan gue sebaliknya.”

Raline tersenyum singkat. “Lo beruntung bisa milikin Agil, lo berdua sama-sama beruntung. Gue selalu berdoa semoga lo berdua bisa menjadi pasangan yang abadi, hidup berdua selamanya sampai waktu lo berdua udah selesai....”

Agil dan Klea tersenyum. “Aamiin.”

Klea melihat Agil yang bangkit dari posisinya. “Sekarang gimana? Apa masalahnya udah Clear? Mas harap udah, dek.... Ngga ada yang perlu kamu khawatirin lagi.... Dulu Raline sama Gara itu jadi sahabat mas, kemana-mana dulu waktu kerja selalu bareng. Mas, ngga pernah menduakan kamu Lea....” ucap Agil menatapnya

Klea pun bangkit dari posisinya, lalu ia memeluk Agil saat itu juga. “Mas, Lea minta maaf....”

“Ngga perlu minta maaf.... Sekarang mas tanya ke kamu, kamu percaya kan kalo anak yang dikandung Raline dulu itu Anaknya Gara? Kamu percaya kan kalo Alex itu anaknya Gara?”

Klea melepaskan pelukannya, ia melihat Alex yang di sana menatapnya juga. Lalu, ia langsung menghampiri Alex. Klea menatap Alex dengan lekat, ia juga mengelus perlahan wajahnya. Pantas saja setiap melihat Alex ia seperti mengenal wajah seseorang, ternyata memang benar seseorang itu adalah Gara, teman kerjanya Agil dulu. Alex, benar-benar sangat mirip dengan Gara.

“Tante....” panggil Alex

Klea tersenyum getir. “Alex, anggap aja om Agil papah kamu ya? Tante yakin, om Agil akan menyayangi kamu seperti anaknya sendiri....”

Alex meneteskan air matanya.

“Jangan nangis, ganteng.... Tante bangga sama Alex, Alex tumbuh jadi anak baik sekarang.... Alex jagain mamah ya selama ini? Alex hebat, tante ngga salah milih mantu,”

Agil, Klea, Raline, dan Alex terkekeh kecil.

“Pokoknya udah, Alex tenang aja. Alex sama mamah Raline udah tante anggap sebagai keluarga tante sendiri. Pokoknya Alex kalo ada apa-apa bilang sama tante atau om Agil, ya?” ucap Klea menangkup wajah Alex dan menatapnya dengan lekat

Alex mengangguk. “Makasih, tante....”


“Makasih ya lin udah bantu jelasin,” ucap Agil tersenyum menatap Raline yang kini mengantarkannya ke depan rumah

“Iya sama-sama.”

“Ya walaupun sebenernya gue ngga tau, ini istri gue bener-bener percaya atau ngga.”

Klea menepuk secara perlahan lengan Agil, lalu ia tersenyum manis ke arah Raline. “Percaya kok, gue percaya. Tadi kan lo udah kasih tau foto-foto lo dulu sama Gara, sama Mas Agil. Dan.... yang masalah bar, hehe maaf ya gue salah paham....”

Agil dan Raline terkekeh.

“Yaudah kalo gitu gue sama Klea pamit dulu, ya? Alex, om sama Tante pamit dulu,” ucap Agil

“Salim sana lex sama om tante,” ucap Raline

Klea dan Agil sama-sama tersenyum hangat saat Alex mengecup tangan mereka berdua.

“Gue harap setelah ini lo berdua hidup bahagia ya sama anak-anak lo,” ucap Raline

Klea terkekeh kecil. “Aamiin. Tapi bakal lebih bahagia kalo kita jodohin anak kita, kan?”

Agil melongo, ia langsung menatap Klea saat itu juga. “Masih kecil, ngga boleh nikah dulu.”

Klea berdecak malas. “Apasih, siapa yang ngomongin nikah coba? Lea kan cuma bilang mau jodohin anak kita.”

Raline dan Alex terkekeh.

“Udah, ah. Bini gue tuh makin lama makin ngaco, gue harus bawa balik,” ucap Agil menatap Raline

Klea hanya berdecak.

“Iya-iya sana. Hati-hati, ya? Sehat-sehat juga nih dede bayinya,” ucap Raline tersenyum sambil mengusap perut Klea

Agil dan Klea tersenyum manis. “Aamiin, makasih ya. Yaudah kita pamit, ya? Assalamualaikum....” ucapnya setelah itu mereka berdua langsung melenggang pergi dari rumah Raline

Klea melangkahkan kakinya dengan napas yang terengah-engah. Jujur, bermain ski lelah sekali bagi Klea yang sedang mengandung. Bodoh memang, tetapi itu sangat seru sekali baginya.

Klea menghentikan langkahnya begitu saja, ia benar-benar merasa sangat lelah. Agil yang sedari tadi dengan setia menuntun Klea juga menghentikan langkahnya, menatap Klea yang di belakangnya sedikit membungkukkan tubuhnya.

“Kan mas udah bilang, ngga usah ikut main ski. Kamu lagi hamil, main ski itu ngga cuma meluncur doang. Sekarang capek....?” tanya Agil

Yang ditanya malah cengengesan. “Maaf, abis Lea penasaran gimana main ski, Lea kan belum pernah nyoba.”

Agil tak membalas ucapan Klea, ia malah mengajak Klea untuk duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia di tempat bermain ski ini.

“Ngga usah naik kereta gantung deh, duduk di sini aja.”

Klea menoleh menatap Agil yang kini memberikannya sebotol air minum. “Tapi Lea mau nyobain naik kereta gantung.... Tadi kan mas yang ajakin....”

Agil memicingkan matanya ke arah ujung sana, melihat di mana tempat menaiki kereta gantung tersebut. “Tuh, jauh.”

Klea melihat apa yang Agil lihat, lalu ia berdecak kesal. “Ya itu kan naik Ski-doo bisa....”

“Ngga, ah. Udah di sini aja, naik kereta gantungnya nanti nungguin anak-anak selesai main.”

Klea mendengus kasar. Lalu, mereka berdua akhirnya saling terdiam satu sama lain.

“MAS ADAM WOI LO JANGAN KENCENG-KENCENG GILA!”

“LO LAMBAT KAYAK KEONG TINGGAL MELUNCUR JUGA ALAY BANGET TAKUT JATOH.”

“ALE, SINI AKU PEGANGIN KAMU.”

“HEHEHE KAK ALEX, IYA SINI PEGANGIN.”

“ADAM AKU MAU JATUH, ADAMMM!!”

“Ehhh....” ucap Klea yang baru saja ingin berdiri dan menyusul Adeline yang mau jatuh itu, tetapi tangannya ditarik dengan cepat oleh Agil.

“Ngga jadi jatoh, itu Adam udah nahan Adeline.”

Klea menghela napasnya dengan lega melihat Adeline yang di depan sana sudah ditolong oleh Adam. “ADELINE, JANGAN KENCENG-KENCENG SAYANG,” teriak Klea

“IYA TANTE, MAAF HEHEHE....”

Klea hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku anak muda di depan sana.

“Kangen masa-masa muda kita ngga sih, dek?” celetuk Agil tiba-tiba

Klea menoleh menatap Agil yang matanya menatap anak-anaknya yang sedang bermain di depan sana, lalu ia secara perlahan menggeserkan tubuhnya ke arah Agil agar bisa berdekatan dengan suaminya itu.

“Iya, kangen. Kangen banget dulu waktu muda kita jalan-jalan sama Timothee, makan nasgor lamer....” ucap perempuan yang kini sudah menyandarkan kepalanya di pundak Agil

Agil meraih tangan Klea, ia genggamnya dengan sangat lembut. “Umur kita udah tua banget, ngga kerasa.”

“Kita ngga ke grandma, mas?” tanya Klea yang mendongak menatap Agil

Agil menggeleng kecil.

Mereka kembali terdiam masing-masing di posisinya, masih setia menatap anak-anaknya yang di depan sana bermain sambil bercanda gurau. Sebagai orang tua, Agil dan Klea merasa sangat senang saat melihat itu.

“Kamu kedinginan ngga?” ucap lelaki yang kini sambil mengelus perut perempuan yang berada di sampingnya

“Mas nanyain siapa? Lea atau adek?”

Agil terkekeh kecil. “Dua-duanya, sayang....”

“Ngga kok, ngga terlalu dingin.” Klea lebih mengeratkan pelukannya di lengan Agil, “Seneng banget Lea ngeliat anak-anak bahagia kayak gitu. Kadang Lea suka ngerasa kurang puas sama masa muda kita dulu, mas.... Lea kayak mau ngulang waktu lagi....”

Agil tersenyum tipis.

“Mas,” panggil Klea

“Apa, dek....”

“Lea boleh ngomongin seseorang ngga?” tanya Klea yang kini mengubah posisinya dan menatap Agil

Agil menatap Klea yang kini menatapnya juga, lalu tangannya beralih mengusap surai rambut perempuan itu. “Ngomongin siapa?”

“Leon, mas....”

Agil terdiam sejenak, lalu ia mengangguk.

Klea kembali menyandarkan kepalanya di pundak Agil, tak lupa ia memeluk lengannya juga. “Dulu Leon pernah bilang ke Lea, dia mau ajak Lea sama anak-anak nikmatin musim dingin di Edinburgh. Tapi.... Semuanya malah jadi kayak gini. Leon jahat banget ya, mas? Lea ngga nyangka Leon bisa kayak gitu lagi. Disaat Lea udah mulai percaya sama dia, tapi dia malah kayak gitu....”

Agil kembali terdiam, lagi-lagi ia mengingat perkataan Leon kala itu waktu terakhir kalinya ia bertemu dengannya.

“Gil, nanti bawa Klea sama anak-anak nikmatin musim dingin di Edinburgh ya? Gue ngga bisa tepatin omongan gue dulu ke Klea, gue ngga bisa....”

Agil bisa merasakan helaan napas berat Klea, yang ia lakukan hanyalah menggenggam tangannya dengan sangat erat.

“Sekarang yang bawa Lea sama anak-anak nikmatin musim dingin di sini Mas Agil.... Lea seneng banget, mas....”

“BTW!” teriak Klea secara tiba-tiba sampai membuat Agil sedikit terkejut

“Apasih, dek? Jadi sedih tiba-tiba teriak gini,” ucap Agil sambil mengelus dadanya

Klea terkekeh kecil. “Lea ngga mau sedih-sedih lagi ah capek.... Btw, ayo main ski lagi mas....” rengek Klea sambil menggoyang-goyangkan lengan Agil

“Emang udah ngga capek?”

“Ngga nih adek yang mau, tadi nendang,” ucap Klea dengan cepat

Agil mengernyit. “Dek, dedek bayinya masih kecil kali, emang udah bisa nendang?”

Klea tampak terlihat berpikir sejenak. “Iya ya, masih kecil.” Klea mengusap perutnya secara perlahan, “Udah ah ayo kita main ski lagi!!!!”

“MAMAH, PAPAH, MAU MAIN LAGI NGGA? AYO SINI!”

“Tuh, Ale udah neriakin kita.”

Agil menghela napasnya. “Ngga usah lah, kamu lagi hamil. Mas ngga mau nanti adek kenapa-kenapa,” ucapnya sambil mengelus perut Klea

“Kayak jalan pelan gitu aja, mas.... Ngga usah seluncuran....”

“Bener, ya? Cuma narik-narik doang.”

Klea mengangguk dengan cepat, lalu ia bangkit dari posisinya lalu menarik tangan Agil.

Agil hanya terkekeh melihat tingkah laku Klea ini, istrinya ini memang benar-benar sangat menggemaskan.

Leon, sekarang gue udah ngelakuin apa yang ngga bisa lo lakuin ke Klea sama anak-anak.... /batin Agil

Kring!